RISET MURID KELAS XI FASE F: PENGGUNAAN PORNA TRADISIONAL & PORNA MODERN SEBAGAI MEDIA KONDUKTOR DALAM EFEKTIVITAS PERPINDAHAN PANAS

blog-thumb
  • 26 Feb 2026
  • Oleh: INFORMATIKA XI 2026
  • Baca: 623 kali

RISET MURID KELAS XI FASE F: PENGGUNAAN PORNA TRADISIONAL & PORNA MODERN SEBAGAI MEDIA KONDUKTOR DALAM EFEKTIVITAS PERPINDAHAN PANAS

Perpindahan kalor adalah proses transfer energi panas dari benda bersuhu tinggi ke benda bersuhu rendah, yang terjadi melalui tiga cara: konduksi (sentuhan langsung), konveksi (aliran fluida), dan radiasi (pancaran gelombang). Dalam konteks pembuatan sagu lempeng, prinsip konduksi menjadi kunci utama, di mana energi panas dari tungku merambat melalui material cetakan (Porna) untuk mematangkan adonan sagu secara merata.

Dengan bimbingan guru Fisika, Ivandra I. Latumakulita, S.Pd.,Gr., M.Pd, enam siswa kelas XI Fase F SMA Laboratorium Universitas Pattimura melakukan penelitian mendalam untuk mengkaji hantaran panas pada Porna sagu, sebagai alat ikonik dalam pembuatan sagu lempeng/gula di Maluku. Riset ini bukan sekadar tugas akademik, melainkan bentuk implementasi visi sekolah yang berbasis kemaritiman dengan mengaitkan ilmu Fisika langsung pada konteks kearifan lokal.

"Penelitian bersifat kontekstual, dan mengacu kepada misi/visi dari SMA LAB itu sendiri dimana berbasis kemaritiman dan kelautan. fokusnya bisa dikaitkan lebih mendalam berkaitan dengan budaya Maluku" ujar Ivandra

Proses penelitian dimulai dengan pemanasan porna di atas tungku api hingga mencapai suhu optimal. Setelah itu, disusul dengan pengisian tepung sagu/gula ke dalam lubang-lubang cetakan yang panas. Adonan kemudian ditekan dan dipanggang selama waktu tertentu hingga mengeras dan membentuk tekstur lempengan yang sempurna. Selama observasi di lapangan, para siswa dihadapkan pada tantangan teknis berupa fluktuasi panas dari tungku pembakaran tradisional. Minimnya pengalaman dalam mengelola metode pengolahan konvensional menjadi hambatan tersendiri, terutama dalam upaya menjaga stabilitas suhu selama proses pembakaran berlangsung.

Data penelitian menunjukkan bahwa sagu yang diolah menggunakan porna modern mencapai tingkat kematangan yang jauh lebih cepat dibandingkan dengan porna tradisional. Pada pemanasan 40 menit, porna modern mencetak sagu mencapai tingkat matang merata dengan suhu 130°C. Sebaliknya, pada porna tradisional pemanasan dalam 40 menit mencetak sagu mencapai tingkat matang merata dengan suhu 110°C.

Hasil ini membuktikan secara ilmiah bahwa porna modern berbahan besi memiliki keunggulan dalam kelajuan hantaran panas (konduktivitas). Efisiensi termal yang lebih tinggi pada material besi memungkinkan proses pengolahan sagu lempeng/gula menjadi lebih singkat, sebuah temuan penting yang menyandingkan efisiensi teknologi dengan ketekunan tradisi Maluku.

”Melalui kegiatan riset, kami dapat mengembangkan sikap ilmiah, keterampilan berpikir kritis, dan kreativitas dalam mengkaji permasalahan di lingkungan sekitar” ujar peneliti

Berita lain